ASALAMUALAIKUM LUUUUR....SELAMAT DATANG DI DS LOYANG BLOG
SEJARAH DESA LOYANG ) Penemuan sumber air ini pun menjadi sangat berharga bagi seluruh pasukan Pakungwati dan setelah mendapat air, pasukan Pakungwati melanjutkan pengejaran kembali ke selatan. Pada saat pengejaran mereka sampai ditepi sungai yang kering dan lebar didapati sebuah pohon Lo yang besar. Pohon ini menjadi pemujaan penganut agama kesanghyangan. Sang petapa tua yang bertapa dibawah pohon itu lenyap setelah Ki Ageng Agrantaka menanyakan arah pelarian sisa pasukan Ki Dusta. Daerah ini dikemudian hari dihuni penduduk dan diberi nama desa Lohyang, atau desa Loyang. Nama yang diambil dari nama pohon Lo yang menjadi tempat pemujaan ke Sang Hyang (ngehyang). Pohon Lo tersebut sekarang sudah tak berbekas lagi.  Ki Ageng Agrantaka terus membawa sisa pasukannya ke selatan mengikuti sisa pasukan Ki Dusta sampai di pedalaman hutan yang kering. Ditengah hutan pun dalam pengejarannya pasukan Ki Ageng Agrantaka selalu mencari sumber air baik kedung, cura atau menggali sumur untuk minum, berwudlu atau mencuci perlengkapan perang mereka, sekarang masih banyak terdapat sumur-sumur tua peninggalan pasukan Ki Ageng Agrantaka salah satunya adalah Sumur Santri dan sebuah surau kecil yang sudah direnovasi dan terawat dengan baik setelah dipakai hujlah oleh santri-santri dari salah satu pesantren di kabupaten Cirebon sekitar tahun 1980-an. Sisa pasukan Ki Koang dan Ki Brangbang yang terus mundur ke selatan kedalam hutan belantara menggunakan taktik perang yang kadang muncul lalu menghilang laksana siluman maka Ki Ageng Agrantaka menyebut mereka Si Nang dari bahasa jawa Indramayu yakni Senang;nang : bocah atau anak kecil yang suka berlarian atau senang main petak umpet) maka hutan tersebut dikenal sebagai hutan Sinang atau sebagian orang menyebutnya hutan/alas Loyang karena dekat dengan desa Loyang. Akhirnya atas perintah pangeran Cakrabuana pengejaran dihentikan setelah Ki Dusta sebagai pemimpin besarnya berhasil dikalahkan oleh pangeran Cakrabuana ketika Ki Dusta sedang lelaku tapa gantung tanpa menginjak tanah di hutan Sinang. Pangeran Cakrabuana harus merubah diri menjadi seekor kijang emas dan matanya bercahaya yang membuat Ki Dusta gagal dalam pertapaanya lalu menghilang entah kemana. Begitupun sisa pasukan Ki Koang dan Ki Brangbang pun tak lagi bisa dikejar dan hilang entah kemana. Bahkan sampai sekarang ditengah hutan Sinang terdapat situs dimana menurut keyakinan masyarakat setempat menjadi tempat dulu pasukan Ki Dusta moksa, konon ditempat ini dulu masih kerap terdengar alunan gamelan di malam hari, juga menurut beberapa orang pernah melihat penamakan wanita cantik dengan kostum jaman dulu yang menurut mereka adalah penjelmaan Nyai Dyahrengganis putri Ki Dusta. Kini situs itu hanya tinggal segerombolan pohon yang sangat besar dan tua diatas bukit yang dikepung tanaman industri tebu kendati masih terasa aura mistisnya. Situs ini diyakini pula sebagai istana Ki Dusta dan rakyatnya. Konon pohon-pohon itu tak bisa ditebang atau dirobohkan walau menggunakan buldozer sekalipun. Bahkan menjelang petang penduduk setempat melarang keras siapapun berada disekitar lokasi untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Setelah mendapat perintah dari pangeran Cakrabuana sisa-sisa pasukan Pakungwati kembali ke Cirebon dengan kegagalan (mungkin ini penyebab peristiwa perang di desa Amis tidak dicatat dalam kitab-kitab sejarah tua, bukankah yang menyusun kitab-kitab sejarah itu kalangan keraton, maka kisah yang mengunggulkan pihak mereka sajalah yang dicatat, salah satu bentuk sentralisasi informasi dijaman itu, data yang dihasilkan pun cenderung berat sebelah dan cenderung mengkultuskan tokoh yang berkuasa saat itu untuk membentuk opini publik). Sisa pasukan Pakungwati ada yang langsung kembali ke Cirebon melalui jalan pulang yang dirintis sebelumnya dan ada pula yang bertahan seperti Ki Ageng Agrantaka yang memilih menetap di barat laut hutan Sinang (sekarang desa Rajasinga Kecamatan Terisi) dan menyebarkan agama Islam disana. Adapun sisa prajurit yang kembali ke Cirebon satu persatu gugur diperjalanan pulang seperti buyut Asiah di desa Cikedung, buyut Inten di desa Tugu Lelea, dan sebagainya. Sisa pasukan Pakungwati yang kembali ke Cirebon melalui jalur Cikedung, Tugu, Widasari, Bulak, Sleman, Cangkingan, Kedokanbunder dan seterusnya tidak pernah diketahui lagi beritanya dan mungkin menjadi tokoh sejarah setempat dengan nama lain. Daerah-daerah bekas peperangan ini kemudian menjadi desa-desa, masyarakat Cempakamulia yang beragama islam dan lepas dari pengaruh Ki Dusta kemudian menjadi leluhur warga desa Amis dan Loyang. Daerah-daerah sekitarnya berkembang pun karena migrasi penduduk dari selatan (Sumedang dan Majalengka) dan Indramayu timur karena daerah ini memiliki daya tarik hutan heterogen dan tanah yang luas dan subur. Pada awal abad 18 Masehi daerah ini pernah menjadi basis perjuangan Ki Bagus Rangin/Tubagus Rangin dari Bantarjati, Majalengka, bersama buyut Bagus Arsidem (makamnya ada di Komplek Pemakaman Kuno Kesambi), Bagus Arsitem/Buyut Sumber, Bagus Perak, Bagus Kandar, Buyut Urang/Pamayahan dan lainya ketika tanah dikawasan itu disewakan ke Kolonial Belanda oleh sultan Kasepuhan yang pro penjajah sehingga masyarakat setempat menjadi kuli yang diupah rendah bahkan tidak dibayar. Buyut Bagus Arsidem dan Buyut Bagus Arsitem/Buyut Sumber dianggap sebagai leluhur oleh sebagian besar masyarakat Cikedung. Hanya sedikit yang mengaku turunan Sumedanglarang atau wilayah lain. Pada era perang kemerdekaan wilayah ini juga menjadi basis 3 kekuatan militer seperti Pasukan DI/TII/Hizbullah pimpinan Danu, Kesatuan Pesindo/Sosialis pimpinan Sumo, dan Pasukan Siliwangi pimpinan MA Sentot yang masih muda belia, konon 3 kekuatan ini sangat kuat diutara Jawabarat jadi bisa dibayangkan betapa dinamisnya kehidupan berpolitik diwilayah itu karena satu cita-cita kemerdekaan Indonesia walau tetap saja berakhir dengan perang antara kesatuan-kesatuan ini karena ideologi yang berbeda. Pasca proklamasi kemerdekaan masyarakat keturunan China pun pernah memiliki komunitas tersendiri khususnya di desa Cikedung (Kecamatan Cikedung), desa Tugu dan desa Tunggulpayung (kedua desa terakhir masuk kecamatan Lelea), mata pencaharian mereka adalah pedagang, buruh bangunan, seniman bahkan menjadi guru/pendidik. Pada dekade 1960-an sebagian keturunan China ini terusir atau terbunuh dan harta mereka dijarah akibat situasi politik saat itu adapun sebagian lagi bertahan hidup karena menaturalisasikan diri dan bersungguh-sungguh memberikan kontribusi untuk masyarakat setempat, kini di ketiga desa tersebut hanya sedikit yang mengaku turunan China dan mereka tak lagi mengenakan atribut yang berbau China lagi. Sekarang desa Cikedung dimekarkan menjadi dua desa yaitu desa Cikedung dan desa Cikedunglor tahun 1987 dan menjadi sebuah kecamatan di wilayah selatan kabupaten Indramayu. Apakah sejarah desa Cikedung dan desa-desa sekitarnya memiliki hubungan dengan Wiralodra yang konon sebagai pendiri Indramayu? Sampai sekarang tidak atau belum ditemukan adanya hubungan antara sejarah masa lalu Cikedung dengan sejarah masa lalu Indramayu kecuali pertengahan abad 18 Masehi sampai sekarang itupun karena catatan administrasi yang diterbitkan pemerintah Kolonial Belanda dan Inggris. Apakah Cikedung dulu bagian dari Sumedanglarang? Karena tak ada rentetan sejarah Sumedanglarang yang menyinggung daerah tenang ini maka masih belum dipastikan Cikedung pernah menjadi bagian dari Sumedanglarang kecuali diglobalpetakan dengan menarik garis antar 2 titik daerah kekuasaan maka Cikedung bisa diklaim pernah dikuasai banyak kerajaan tapi hanya Kesultanan dari Cirebon saja yang menulis namanya disini sementara yang lain tidak ada termasuk kesultanan Dermayu sendiri. Untuk diketahui bahwa sejarah Wiralodra adalah sejarah asal-usul kota Indramayu, bukan sejarah kabupaten Indramayu apalagi sejarah untuk seluruh wilayah kabupaten Indramayu secara administratif.

Senin, 18 Agustus 2014

SEJARAH TARLING DERMAYON

           SEJARAH TARLING DERMAYON

 

 

Bagi masyarakat yang tinggal di pesisir pantai utara (pantura), terutama Kabupaten Indramayu dan Kabupaten Cirebon, kesenian tarling telah begitu akrab. Alunan bunyi yang dihasilkan dari alat musik gitar dan suling, seolah mampu menghilangkan beratnya beban hidup yang menghimpit. Lirik lagu maupun kisah yang diceritakan di dalamnya, juga mampu memberikan pesan moral yang mencerahkan dan menghibur.
 
Meski telah begitu mengakar dalam kehidupan masyarakat, tak banyak yang mengetahui bagaimana asal-usul terciptanya tarling. Selain itu, tak juga diketahui dari mana sebenarnya kesenian tarling itu terlahir.
Namun yang pasti, tarling merupakan kesenian yang lahir di tengah rakyat pantura, dan bukan kesenian yang ‘istana sentris’. Karenanya, tarling terus berkembang sesuai dengan perkembangan zaman, dan tidak terikat ritme serta tatanan tertentu sebagaimana seni yang lahir di tengah ‘istana’.
Sebelum ‘resmi’ bernama tarling, kesenian ini dikenal dengan sebutan ‘melodi kota ayu’ di Kabupaten Indramayu, dan ‘melodi kota udang’ di Cirebon. Pada 17 Agustus 1962, ketua Badan Pemerintah Harian (BPH, sekarang DPRD) Kabupaten Cirebon, menyebut kesenian itu dengan sebutan tarling. Nama tarling itu diidentikkan dengan asal kata ‘itar’ (gitar dalam bahasa Indonesia) dan suling (seruling). Versi lain pun mengatakan bahwa tarling mengandung filosofi ‘yen wis mlatar kudu eling” (jika sudah berbuat negatif, maka harus bertaubat).
Salah seorang tokoh seni asal Kabupaten Indramayu, Supali Kasim, membuat catatan tersendiri soal tarling dalam bukunya yang berjudul Tarling, Migrasi Bunyi dari Gamelan ke Gitar-Suling. Dalam buku itu dia menuturkan, asal tarling mulai muncul sekitar tahun 1931 di Desa Kepandean, Kecamatan/Kabupaten Indramayu. Saat itu, ada seorang komisaris Belanda yang meminta tolong kepada warga setempat yang bernama Mang Sakim, untuk memperbaiki gitar miliknya. Mang Sakim waktu itu dikenal sebagai ahli gamelan.
Usai diperbaiki, sang komisaris Belanda itu ternyata tak jua mengambil kembali gitarnya. Kesempatan itu akhirnya dipergunakan Mang Sakim untuk mempelajari nada-nada gitar, dan membandingkannya dengan nada-nada pentatonis gamelan.
Hal itupun dilakukan oleh anak Mang Sakim yang bernama Sugra. Bahkan, Sugra kemudian membuat eksperimen dengan memindahkan nada-nada pentatonis gamelan ke dawai-dawai gitar yang bernada diatonis.
Karenanya, tembang-tembang (kiser) Dermayonan dan Cerbonan yang biasanya diiringi gamelan, bisa menjadi indah dengan iringan petikan gitar. ”Keindahan itupun semakin lengkap setelah petikan dawai gitar diiringi dengan suling bambu yang mendayu-dayu,” ujar Supali.
Alunan gitar dan suling bambu yang menyajikan kiser Dermayonan dan Cerbonan itu pun mulai mewabah sekitar dekade 1930-an. Kala itu, anak-anak muda di berbagai pelosok desa di Kabupaten Indramayu dan Kabupaten Cirebon, menerimanya sebagai suatu gaya hidup.
Bahkan pada 1935, alunan musik tarling juga dilengkapi dengan kotak sabun yang berfungsi sebagai kendang, dan kendi sebagai gong. Kemudian pada 1936, alunan tarling dilengkapi dengan alat musik lain berupa baskom dan ketipung kecil yang berfungsi sebagai perkusi.
Sugra dan teman-temannya pun sering diundang untuk manggung di pesta-pesta hajatan, meski tanpa honor. Biasanya, panggung itu pun hanya berupa tikar yang diterangi lampu patromak (saat malam hari).
Tak berhenti sampai di situ, Sugra pun melengkapi pertunjukkan tarlingnya dengan pergelaran drama. Adapun drama yang disampaikannya itu berkisah tentang kehidupan sehari-hari yang terjadi di tengah masyarakat. Akhirnya, lahirlah lakon-lakon seperti Saida-Saeni, Pegat Balen, maupun Lair Batin yang begitu melegenda hingga kini. Bahkan, lakon Saida-Saeni yang berakhir tragis, selalu menguras air mata para penontonnya.
Tak hanya Sugra, di Kabupaten Indramayu pun muncul sederet nama yang melambungkan tarling hingga ke berbagai pelosok daerah. Di antara nama itu adalah Jayana, Raden Sulam, Carinih, Yayah Kamsiyah, Hj Dariah, dan Dadang Darniyah. Pada dekade 1950-an, di Kabupaten Cirebon muncul tokoh tarlig bernama Uci Sanusi.
Kemudian pada dekade 1960-an, muncul tokoh lain dalam blantika kesenian tarling, yakni Abdul Ajib yang berasal dari Desa Buyut, Kecamatan Cirebon Utara, Kabupaten Cirebon, dan Sunarto Marta Atmaja, asal Desa Jemaras, Kecamatan Klangenan, Kabupaten Cirebon.
Seni tarling saat ini memang telah hampir punah. ”Namun, tarling selamanya tidak akan bisa dipisahkan dari sejarah masyarakat pesisir pantura Dermayon dan Cerbon,” tandas Supali.


0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih atas kunjunganya teman...